BANJARMASIN – Krisis air baku dan tingginya kadar garam berdampak langsung terhadap produksi dan distribusi air minum PAM Bandarmasih. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi, disela kunjungannya ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Pramuka, Selasa (25/8/2026).
Zulbadi menyoroti kondisi IPA 1 A Yani yang saat ini tidak dapat beroperasi secara normal akibat tingginya kadar garam air baku dari Intake Sungai Bilu. Dalam kondisi tersebut, operasional IPA 1 hanya dapat berjalan sekitar 7 jam, sementara selama kurang lebih 17 jam harus berhenti karena kadar garam berada di atas ambang batas pengolahan.
“IPA 1 ini normalnya bisa produksi sekitar 2.200 meter kubik per jam. Tapi karena kadar garam tinggi, dari 24 jam hanya sekitar 7 jam bisa beroperasi. Selebihnya, kurang lebih 17 jam, kita harus berhenti karena kondisi air baku tidak memungkinkan,” ujar Zulbadi.
Untuk membantu menjaga produksi, IPA 2 Pramuka juga menyuplai air baku dari Sungai Tabuk ke IPA 1 A Yani. Langkah ini dilakukan karena kadar garam di Intake Sungai Bilu masih tinggi, sekaligus untuk memanfaatkan sumber air baku yang kondisinya lebih memungkinkan untuk diolah.
Di sisi lain, produksi IPA 2 Pramuka juga mengalami penurunan. Dari kondisi normal sekitar 5.800 meter kubik per jam, saat ini produksi berada di kisaran 4.200 meter kubik per jam.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap debit distribusi kepada pelanggan. Di sejumlah wilayah, distribusi bahkan dapat mengalami mati total.
“Kami memahami kondisi ini berdampak kepada masyarakat. Kami terus mengoptimalkan seluruh sumber air baku yang tersedia dan menyesuaikan operasional agar produksi serta distribusi tetap bisa berjalan semaksimal mungkin,” pungkas Zulbadi.(Mrj)
Artikel Krisis Air Baku Berlanjut, PAM Bandarmasih Atur Strategi Produksi dan Distribusi pertama kali tampil pada Habar PAM Bandarmasih.

